Busi Jenis Platinum Tidak Semahal Iridium, Performa Lebih Kurang Sama

1 min read


DAPURPACU – PT NGK Busi Indonesia tergoong rutin mengagendakan pelatihan alias coaching clinic kepada pengguna kendaraan, khususnya untuk komunitas otomotif baik motor maupun mobil.

Coaching clinic itu sendiri banyak membahas seputar edukasi teknis soal busi sebagai penyumbang api di ruang bakar kendaraan. Dan aktivitas ini lazim rutin digelar secara tatap muka agar pemahamannya lebih tepat.

Namun, pelatihan teknis tersebut mau tidak mau harus mengikuti atau menyesuaikan dengan kondisi pandemi. Sementara pihak NGK Busi Indonesia ingin terus memberikan upgrade terkini terkait produk-produknya.

Media virtual pun dipilih, dan ternyata diklaim cukup efektif dalam mentransfer teknologi, termasuk mengguatkan sarana media sosial sebagai upaya meng-update teknologi terkini pada busi.

Menurut Technical Support Product Knowledge NGK Busi Indonesia, Diko Oktaviano, berinteraksi secara virtual untuk update teknologi busi menjadi pilihan tepat di masa seperti ini.

“Lantaran tidak diperbolehkan adanya kerumunan namun upgrade teknologi yang terus berjalan harus terus kami lakukan. Ya caranya seperti ini,” ujar Diko, disela webinar dengan media beberapa waktu lalu.

Dalam pelatihan itu, materi yang diberikan seputar beragam pemahaman teknis komponen busi. Paling ditekankan di sini oleh Diko adalah perbedaan penggunaan materialnya.

Diko memaparkan bahwa busi NGK memiliki beragam material yang digunakan, seperti platinum misalnya, selain bahan metal biasa yang menjadi komponen standar di bagian elektroda.

“Diperlukan material istimewa, agar elektroda busi dapat bertahan dan berfungsi sempurna saat berada di kondisi ekstrim ruang bakar dalam waktu yang lama,” imbuh Diko.

Diko mengakui harga busi itu umumnya tergantung dari jenis material elektroda yang dimilikinya. Mulai yang paling murah yaitu copper (tembaga), lalu nickel, dan logam mulia/precious metal seperti silver (perak), platinum dan iridium.

Platinum dan iridium menjadi material yang lazim digunakan pada produk busi NGK. Kedua material yang disematkan pada elektroda itu memiliki keunggulan.

“Memiliki titik lebur sangat tinggi sehingga tahan panas, tingkat kekerasan yang tinggi sehingga tidak mudah terkikis, dan tingkat konduktivitasnya yang baik dalam menyalurkan arus listrik,” jelasnya.

“Di dalam ruang bakar mesin suhunya bisa mencapai 800 derajat, atau bahkan lebih. Platinum memiliki titik lebur hingga 1.768°C, sementara Iridium bisa mencapai 2.466°C,” katanya.

Penggunaan material Precious Metals pada centre electrode memungkinkan terjadinya pembakaran campuran bahan bakar dan udara lebih sempurna, karena proses pembesaran energi/ledakan lebih maksimal, sehingga residu gas buang (emisi) akan sangat berkurang.

Untuk menjawabnya, NGK G-Power bisa menjadi solusinya. Dengan banderol yang tidak semahal tipe iridium, penggunaan material platinum tetap menghasilkan performa optimal berkat desain kepala elektroda businya yang unik.

Bentuk elektroda positif pada NGK Toyota G-Power dibuat meruncing dan menyisakan bagian ujung berdiameter 0,6 mm. Hal ini menurut Diko membuat percikan api lebih terfokus pada bagian itu.

Sementara desain elektroda negatif/ground dibuat dengan penampang berbentuk trapesium yang mengecil di bagian terdekat center elektrode. Tujuannya mengurangi quenching effect yang menghambat penyebaran inti api dari kepala busi ke seluruh ruang bakar.

Kombinasi dari kepala elektroda positif yang meruncing dan bentuk ground trapesium membuat celah yang tercipta di sekeliling dua elektroda menjadi lebih terbuka.

“Sehingga inti api yang dikeluarkan dapat menyebar dengan cepat ke seantero ruang bakar tanpa ada halangan,” pungkas Diko. [dp/MTH]



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *